Beberapa waktu lalu, Elly Rosita Silaban, mewakili Dewan Eksekutif Nasional konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (DEN KSBSI) ikut menghadiri undangan forum internasional Komite Perempuan IndustriAll, di Mexico City, Amerika Selatan. Agenda pertemuan itu dihadiri aktivis serikat buruh lintas negara untuk membahas dan memperjuangkan hak-hak perempuan dalam dunia kerja. Dimana, selama ini KSBSI juga sangat konsisten terlibat untuk melakukan advokasi dan melakukan kampanye memperjuangkan hak dan kepemimpinan perempuan di serikat buruh.
Dalam keterangannya, Elly mengatakan selama beberapa hari mengikuti pertemuan Komite Perempuan Industri All, banyak membahas persoalan nasib buruh perempuan diberbagai negara. Terutama pembahasan masalah diskriminasi dan kekerasan perempuan dalam dunia kerja. Untuk itulah, Komite Perempuan IndustriAll, memutuskan untuk memperjuangkan 40 persen partisipasi perempuan disetiap negara. Termasuk juga mendorong agar serikat buruh ditiap negara untuk mendorong undang-undang yang menjamin hak dan perlindungan perempuan.
Pasalnya, Komite Perempuan IndustriAll,sampai hari ini masih menilai keterlibatan perempuan sebagai pengambil keputusan masih terbilang minim diberbagai negara. Hal itu disebabkan karena masih adanya faktor diskriminasi, karena perempuan masih dianggap golongan lemah dalam dunia kerja dan ditengah masyarakat. Oleh sebab itu juga, Elly mengatakan seluruh peserta yang hadir juga merekomendasikan kampanye melawan stigma ketidakseimbangan gender.
Rekomendasi melawan stigma ketidakseimbangan gender itu sebelumnya juga sudah dibahas di Cape Town, Afrika Selatan pada bulan Oktober lalu, yang mempertemukan pria dan wanita yang memainkan peran utama dalam sektor IndustriALL. Hal itu disampaikan Monica Veloso, Ketua Komite Perempuan IndustriAll, bahwa hasil pertemuan bulan Oktober lalu yang merekomendasikan:
Berdasarkan penilaian Komite Perempuan IndustriAll, di tahun 2018 ini, sudah cukup banyak kemajuan perempuan di serikat buruh dalam memperjuangkan agenda IndustriALL dalam perjuangan 40 persen perempuan sebagai pengambil kebijakan. Contohnya, proyek pembangunan serikat buruh di Sub Sahara, Afrika telah mencapai tingkat 49,3 persen partisipasi perempuan dan dalam pekerjaan proyek Asia Tenggara hampir mencapai 44 persen.
“Dalam kegiatan pemuda secara global, partisipasi wanita adalah 40 -50 persen. Kemudian Komite Perempuan IndustriALL, negara Filipina juga sekarang ini sudah berhasil memperjuangkan tentang penambahan cuti hamil selama 105 hari hari cuti,” ujarnya.
Intinya, dalam pertemuan itu Komite Perempuan IndustriALL juga menyerukan kepada serikat buruh yang berafiliasi afiliasi agar berkomitmen untuk membuat ikrar dengan mengakhiri kekerasan terhadap perempuan dalam dunia kerja. Saat ini sekitar 100 serikat buruh telah mengadopsi krar ini. Promosi ikrar berlanjut dengan rencana untuk mengembangkan modul pelatihan untuk serikat buruh.
Komite perempuan memutuskan untuk:
“Kami sebagai perwakilan dari serikat buruh akan melanjutkan pekerjaan untuk meningkatkan partisipasi dan perwakilan perempuan di IndustriALL dan afiliasi kita. Tapi kita semua harus mengakui bahwa ini bukan masalah bagi perempuan saja: ini adalah masalah inti serikat buruh diseluruh dunia,” pungkasnya. (AH)